Jombang – Komitmen dalam mendukung pembelajaran kontekstual berbasis
lingkungan terus diwujudkan oleh JKPKA melalui kegiatan pendampingan
kokurikuler di MA Sains Tebuireng Putri Jombang. Kegiatan ini dilaksanakan pada
28 April 2026 sebagai bagian dari upaya penguatan pembelajaran mendalam yang
terintegrasi lintas disiplin ilmu
dengan tema pembelajaran “Sungaiku
Inspirasi Belajarku.”
Kegiatan ini dibuka dengan sambutan
Kepala MA Sains Tebuireng Putri Jombang, Bapak Rofiq, yang menekankan
pentingnya pembelajaran kontekstual sebagai sarana membangun kesadaran peserta
didik terhadap lingkungan, khususnya ekosistem sungai. Ia menyampaikan bahwa
sungai dapat menjadi sumber belajar yang kaya untuk mengembangkan kemampuan
berpikir kritis dan kepedulian ekologis siswa.
Selanjutnya, tim JKPKA yang terdiri
dari Istri Setyowati selaku Ketua JKPKA dan Iqbal Bilgrami selaku Sekretaris
JKPKA menyampaikan materi terkait pemantauan kualitas air sungai dengan
pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan aspek biologi, kimia, dan
fisika. Pada aspek biologi, siswa dikenalkan pada metode bioassessment melalui
pengamatan organisme air yaitu keberadaan
hewan makroinvertebarta sebagai indikator kualitas air . Dari aspek kimia,
siswa dikenalkan mengukur kualitas air menggunakan alat senderhana ‘paper test” untuk mengukur pH dan kandungan ion-ion logam,
sedangkan pada aspek fisika, siswa dikenalkan pengukuran suhu, kekeruhan dan
kecepatan air sungai dengan menggukan alat sederhana.
Tidak hanya penyampaian materi, tim JKPKA juga
memberikan pendampingan langsung kepada siswa dalam kegiatan pemantauan
kualitas air sungai yang berada di sekitar lingkungan pondok. Siswa terlibat aktif dalam proses pengamatan,
pengambilan data, hingga analisis sederhana terhadap kondisi sungai di
lapangan. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi hasil pemantauan,
sehingga siswa mampu menginterpretasikan data secara ilmiah. Untuk mendorong
keterlibatan aktif, pembelajaran diawali dengan pertanyaan-pertanyaan pematik
yang menantang siswa berpikir kritis, seperti peran pelajar dalam menjaga
kesehatan sungai, dampak pencemaran terhadap kehidupan sehari-hari, serta upaya
mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Dari Hasil presetasi 4 kelompok
diperoleh kesimpulan dari indikator
biologi dengan indek IKA rata-rata 5,1 – 5,5
kualitas air kategori sedang. Dari hasil
pengukuran pH rata-rata 6.5 -7 dan mengandung ion besi yang diduga dari limbah industri
aluminium dengan kadar lebih dari 3 mg. Dari pengukuran ini air
sungai tersebut berdasarkan baku mutu air dapat dikategorikan air kelas VI yang
hanya dapat digunakan untuk pertanian, Untuk indicator fisika dari warna air
sungai coklat, kecepatan arus nya cukup, kekeruhan kategori juga cukup keruh.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak
hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga didorong untuk menghasilkan
solusi nyata yang aplikatif dan berkelanjutan, seperti pembuatan alat penyaring
air sederhana, sistem monitoring kualitas air, hingga kampanye berbasis data
lingkungan.
Kolaborasi
ini menjadi langkah strategis dalam menghadirkan pembelajaran mendalam yang
mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sekaligus membentuk karakter peduli
lingkungan. Dengan menjadikan sungai sebagai sumber belajar, peserta didik
diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan.
