Workshop Sekolah Sahabat Sungai Perkuat Peran Sekolah
dalam Pelestarian Sungai dan Pembelajaran Mendalam di Wilayah Jatrunseluna
Semarang
Semarang,
19–20 Juli 2026 – Jaring-jaring Komunikasi Pemantau Kualitas Air (JKPKA)
menyelenggarakan Workshop Program Sekolah Sahabat Sungai Tingkat SMA dan
Pengenalan Pemantauan Kualitas Air Tingkat SMP dengan tema "Penguatan
Peran JKPKA dalam Pelestarian Sungai melalui Program Sekolah Sahabat Sungai
untuk Mewujudkan Pembelajaran Mendalam di Sekolah." di wilayah
Jatrunseluna Semarang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di SMA Negeri
4 Semarang ini diikuti oleh 84 peserta yang terdiri atas guru dan siswa dari 39
sekolah, yaitu 14 SMA dan 25 SMP di wilayah Jawa Tengah.
Kegiatan
dibuka dengan sambutan dari berbagai pemangku kepentingan yang memiliki
perhatian terhadap pelestarian lingkungan dan pendidikan. Hadir dalam kegiatan
tersebut Ibu Larasati H.S., M.Pd., selaku Pengawas yang mewakili Kepala Cabang
Dinas Pendidikan Wilayah II Provinsi Jawa Tengah, Ibu Fransiska Emilia, M.Hut.
dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Bapak Iman Buchori, S.T.,
M.Sc. selaku perwakilan Perum Jasa Tirta I, serta Kepala SMA Negeri 4 Semarang,
Ibu Sri Wahyuni, M.Pd. selaku tuan rumah kegiatan.
Dalam
sambutannya, para narasumber dan tamu undangan menegaskan pentingnya
keterlibatan sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan. Ketua JKPKA, Ibu Istri
Setyowati, M.Pd., menyampaikan bahwa Program Sekolah Sahabat Sungai merupakan
salah satu upaya untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan melalui pembelajaran
yang kontekstual dan berbasis pengalaman nyata. "Melalui kegiatan ini, kami
berharap guru dan siswa tidak hanya memahami teori tentang kualitas air, tetapi
juga mampu melakukan pengamatan secara langsung serta menumbuhkan rasa tanggung
jawab terhadap kelestarian sungai di lingkungan masing-masing. Sungai yang
sehat merupakan aset penting bagi kehidupan, sehingga menjaga kualitasnya
menjadi tanggung jawab bersama," ujarnya. Program Sekolah Sahabat Sungai
diharapkan menjadi sarana pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada
peserta didik dalam memahami, memantau, dan menjaga kualitas lingkungan di
sekitarnya.
Pada hari
pertama, kegiatan difokuskan pada penyampaian materi sebagai bekal sebelum
pelaksanaan praktik lapangan. Materi pertama disampaikan oleh Bapak Abdul
Rozak, S.T. mengenai peran Perum Jasa Tirta I dalam pengelolaan sumber daya
air. Melalui materi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya
pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan untuk mendukung kehidupan
masyarakat dan menjaga keseimbangan lingkungan. Materi berikutnya disampaikan
oleh Ibu Istri Setyowati, M.Pd. mengenai pengenalan JKPKA serta teknik
pemantauan kualitas air secara fisika, kimia, dan geografis. Selanjutnya, Bapak
Iqbal Bilgrami, M.Pd. menyampaikan materi tentang pemantauan kualitas air
menggunakan indikator biologi melalui identifikasi makroinvertebrata sebagai
bioindikator kualitas perairan.
Pada hari
kedua, peserta melaksanakan praktik lapangan di Sungai Garang, wilayah
Tejomoyo, Semarang. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 10.00
WIB ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam
menerapkan metode pemantauan kualitas air yang telah dipelajari pada hari
sebelumnya. Peserta kembali ke SMA N 4 untuk melanjutkan proses diskusi analisis
data dan presentasi bersama anggota kelompoknya.Pengamatan dilakukan terhadap
parameter fisika, kimia, biologi dan geografi. Dari hasil pemantauan 7 kelompok
dapat di representasikan, pada parameter fisika, tingkat kekeruhan air yang diukur menggunakan cakram Secchi
sederhana berada pada kisaran 41–53 cm dengan rata-rata 48,3 cm. Suhu air
berkisar antara 27–28°C dengan rata-rata 27,5°C, sedangkan kecepatan arus
sungai mencapai rata-rata 0,68 m/detik. Secara
visual warna air teramati cokelat yang menunjukkan adanya material tersuspensi
yang terbawa oleh aliran sungai.
Pada parameter
kimia, nilai pH berkisar antara 6,2–7,6 dengan rata-rata 6,67. Kisaran tersebut
masih berada dalam rentang baku mutu kualitas air untuk berbagai peruntukan
sehingga menunjukkan kondisi perairan yang relatif netral dan masih mendukung
kehidupan organisme akua. Kandungan besi (Fe) yang terukur sebesar 0,3 mg/L, total alkalinitas tercatat rata-rata 40 mg/L
dan karbonat sebesar 13,3 mg/L masih berada pada kisaran yang umum dijumpai
pada perairan alami. Hasil pengukuran juga menunjukkan kandungan tembaga (Cu)
rata-rata 0,13 mg/L, klorin total sebesar 1,66 mg/L, klorin bebas sebesar 0,83
mg/L, bromin sebesar 2,33 mg/L, besi (Fe) sebesar 0,3 mg/L, serta fluorida
sebesar 15 mg/L. Sementara itu, keberadaan tembaga (Cu), klorin, bromin, dan
fluorida menunjukkan adanya unsur-unsur kimia yang secara alami maupun akibat
aktivitas manusia dapat ditemukan di lingkungan perairan. Namun demikian, untuk
menilai tingkat kesesuaiannya terhadap baku mutu secara lebih akurat diperlukan
pengujian laboratorium yang lebih lengkap dan terstandar. Sementara itu,
parameter nitrat, nitrit, merkuri (Hg), timbal (Pb), asam sianurat, dan kromium
(Cr) tidak terdeteksi pada saat pengamatan.
Selain itu,
peserta juga melakukan identifikasi makroinvertebrata sebagai indikator
biologis kualitas air. Organisme yang ditemukan meliputi kepik pendayung, larva
ulat air tak berkantung, nimfa lalat sehari insang bercabang, engkang-engkang,
larva lamuk hantu, larva lalat, larva ngengat, kepiting sungai, dan siput air. Berdasarkan
hasil identifikasi makroinvertebrata, diperoleh nilai Indeks Kualitas Air (IKA)
biologi pada kisaran 4,06–5,6 dengan rata-rata
5,1 yang termasuk dalam kategori sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa kondisi perairan Sungai
Garang pada lokasi pemantauan masih mampu mendukung kehidupan berbagai
organisme akuatik, meskipun tetap memerlukan upaya pelestarian dan pengelolaan
lingkungan secara berkelanjutan.
Secara
umum, hasil pemantauan menunjukkan bahwa kondisi Sungai Garang di Tejomoyo masih
cukup baik untuk mendukung kehidupan biota perairan. Dari aspek
fisika, kondisi suhu dan arus masih mendukung kehidupan organisme akuatik. Dari
aspek kimia, nilai pH berada pada kisaran yang mendekati netral dan beberapa
parameter pencemar penting seperti merkuri, timbal, nitrat, nitrit, serta
kromium tidak terdeteksi. Sementara dari aspek biologi, keberadaan berbagai
jenis makroinvertebrata serta nilai IKA kategori sedang menunjukkan bahwa
ekosistem sungai masih memiliki kemampuan untuk menopang kehidupan organisme
air.
Dengan kegiatan
praktik langsung ke sungai , peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan
teoritis, tetapi juga pengalaman nyata dalam melakukan pemantauan kualitas air
dan memahami hubungan antara kondisi lingkungan dengan keberadaan organisme
perairan. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran
mendalam (deep learning) yang mendorong peserta didik untuk belajar
secara kontekstual, kolaboratif, dan berbasis pengalaman langsung.
Melalui
Program Sekolah Sahabat Sungai, JKPKA berharap sekolah-sekolah peserta dapat
mengembangkan kegiatan pemantauan kualitas air secara berkelanjutan sebagai
bagian dari pendidikan lingkungan hidup. Dengan demikian, sekolah tidak hanya
menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam
menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan serta pelestarian sumber daya air
bagi generasi mendatang.
