0857000000001
mrjkpka@jkpka.id
Jl. Bromo No. 16, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119 Indonesia
Workshop Sekolah Sahabat Sungai Perkuat Peran Sekolah dalam Pelestarian Sungai dan Pembelajaran Mendalam di Wilayah Jatrunseluna Semarang

Workshop Sekolah Sahabat Sungai Perkuat Peran Sekolah dalam Pelestarian Sungai dan Pembelajaran Mendalam di Wilayah Jatrunseluna Semarang

Semarang, 19–20 Juli 2026 – Jaring-jaring Komunikasi Pemantau Kualitas Air (JKPKA) menyelenggarakan Workshop Program Sekolah Sahabat Sungai Tingkat SMA dan Pengenalan Pemantauan Kualitas Air Tingkat SMP dengan tema "Penguatan Peran JKPKA dalam Pelestarian Sungai melalui Program Sekolah Sahabat Sungai untuk Mewujudkan Pembelajaran Mendalam di Sekolah." di wilayah Jatrunseluna Semarang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di SMA Negeri 4 Semarang ini diikuti oleh 84 peserta yang terdiri atas guru dan siswa dari 39 sekolah, yaitu 14 SMA dan 25 SMP di wilayah Jawa Tengah.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pelestarian lingkungan dan pendidikan. Hadir dalam kegiatan tersebut Ibu Larasati H.S., M.Pd., selaku Pengawas yang mewakili Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Provinsi Jawa Tengah, Ibu Fransiska Emilia, M.Hut. dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Bapak Iman Buchori, S.T., M.Sc. selaku perwakilan Perum Jasa Tirta I, serta Kepala SMA Negeri 4 Semarang, Ibu Sri Wahyuni, M.Pd. selaku tuan rumah kegiatan.

Dalam sambutannya, para narasumber dan tamu undangan menegaskan pentingnya keterlibatan sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan. Ketua JKPKA, Ibu Istri Setyowati, M.Pd., menyampaikan bahwa Program Sekolah Sahabat Sungai merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan melalui pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pengalaman nyata. "Melalui kegiatan ini, kami berharap guru dan siswa tidak hanya memahami teori tentang kualitas air, tetapi juga mampu melakukan pengamatan secara langsung serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kelestarian sungai di lingkungan masing-masing. Sungai yang sehat merupakan aset penting bagi kehidupan, sehingga menjaga kualitasnya menjadi tanggung jawab bersama," ujarnya. Program Sekolah Sahabat Sungai diharapkan menjadi sarana pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik dalam memahami, memantau, dan menjaga kualitas lingkungan di sekitarnya.

Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada penyampaian materi sebagai bekal sebelum pelaksanaan praktik lapangan. Materi pertama disampaikan oleh Bapak Abdul Rozak, S.T. mengenai peran Perum Jasa Tirta I dalam pengelolaan sumber daya air. Melalui materi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan untuk mendukung kehidupan masyarakat dan menjaga keseimbangan lingkungan. Materi berikutnya disampaikan oleh Ibu Istri Setyowati, M.Pd. mengenai pengenalan JKPKA serta teknik pemantauan kualitas air secara fisika, kimia, dan geografis. Selanjutnya, Bapak Iqbal Bilgrami, M.Pd. menyampaikan materi tentang pemantauan kualitas air menggunakan indikator biologi melalui identifikasi makroinvertebrata sebagai bioindikator kualitas perairan.

Pada hari kedua, peserta melaksanakan praktik lapangan di Sungai Garang, wilayah Tejomoyo, Semarang. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 10.00 WIB ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam menerapkan metode pemantauan kualitas air yang telah dipelajari pada hari sebelumnya. Peserta kembali ke SMA N 4 untuk melanjutkan proses diskusi analisis data dan presentasi bersama anggota kelompoknya.Pengamatan dilakukan terhadap parameter fisika, kimia, biologi dan geografi. Dari hasil pemantauan 7 kelompok dapat di representasikan, pada parameter fisika, tingkat kekeruhan  air yang diukur menggunakan cakram Secchi sederhana berada pada kisaran 41–53 cm dengan rata-rata 48,3 cm. Suhu air berkisar antara 27–28°C dengan rata-rata 27,5°C, sedangkan kecepatan arus sungai mencapai rata-rata 0,68 m/detik. Secara visual warna air teramati cokelat yang menunjukkan adanya material tersuspensi yang terbawa oleh aliran sungai.

Pada parameter kimia, nilai pH berkisar antara 6,2–7,6 dengan rata-rata 6,67. Kisaran tersebut masih berada dalam rentang baku mutu kualitas air untuk berbagai peruntukan sehingga menunjukkan kondisi perairan yang relatif netral dan masih mendukung kehidupan organisme akua. Kandungan besi (Fe) yang terukur sebesar 0,3 mg/L,  total alkalinitas tercatat rata-rata 40 mg/L dan karbonat sebesar 13,3 mg/L masih berada pada kisaran yang umum dijumpai pada perairan alami. Hasil pengukuran juga menunjukkan kandungan tembaga (Cu) rata-rata 0,13 mg/L, klorin total sebesar 1,66 mg/L, klorin bebas sebesar 0,83 mg/L, bromin sebesar 2,33 mg/L, besi (Fe) sebesar 0,3 mg/L, serta fluorida sebesar 15 mg/L. Sementara itu, keberadaan tembaga (Cu), klorin, bromin, dan fluorida menunjukkan adanya unsur-unsur kimia yang secara alami maupun akibat aktivitas manusia dapat ditemukan di lingkungan perairan. Namun demikian, untuk menilai tingkat kesesuaiannya terhadap baku mutu secara lebih akurat diperlukan pengujian laboratorium yang lebih lengkap dan terstandar. Sementara itu, parameter nitrat, nitrit, merkuri (Hg), timbal (Pb), asam sianurat, dan kromium (Cr) tidak terdeteksi pada saat pengamatan.

Selain itu, peserta juga melakukan identifikasi makroinvertebrata sebagai indikator biologis kualitas air. Organisme yang ditemukan meliputi kepik pendayung, larva ulat air tak berkantung, nimfa lalat sehari insang bercabang, engkang-engkang, larva lamuk hantu, larva lalat, larva ngengat, kepiting sungai, dan siput air. Berdasarkan hasil identifikasi makroinvertebrata, diperoleh nilai Indeks Kualitas Air (IKA) biologi pada kisaran 4,06–5,6 dengan rata-rata  5,1 yang termasuk dalam kategori sedang. Hasil ini menunjukkan bahwa kondisi perairan Sungai Garang pada lokasi pemantauan masih mampu mendukung kehidupan berbagai organisme akuatik, meskipun tetap memerlukan upaya pelestarian dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Secara umum, hasil pemantauan menunjukkan bahwa kondisi Sungai Garang di Tejomoyo masih cukup baik untuk mendukung kehidupan biota perairan. Dari aspek fisika, kondisi suhu dan arus masih mendukung kehidupan organisme akuatik. Dari aspek kimia, nilai pH berada pada kisaran yang mendekati netral dan beberapa parameter pencemar penting seperti merkuri, timbal, nitrat, nitrit, serta kromium tidak terdeteksi. Sementara dari aspek biologi, keberadaan berbagai jenis makroinvertebrata serta nilai IKA kategori sedang menunjukkan bahwa ekosistem sungai masih memiliki kemampuan untuk menopang kehidupan organisme air.

Dengan kegiatan praktik langsung ke sungai , peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman nyata dalam melakukan pemantauan kualitas air dan memahami hubungan antara kondisi lingkungan dengan keberadaan organisme perairan. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) yang mendorong peserta didik untuk belajar secara kontekstual, kolaboratif, dan berbasis pengalaman langsung.

Melalui Program Sekolah Sahabat Sungai, JKPKA berharap sekolah-sekolah peserta dapat mengembangkan kegiatan pemantauan kualitas air secara berkelanjutan sebagai bagian dari pendidikan lingkungan hidup. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga menjadi agen perubahan dalam menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan serta pelestarian sumber daya air bagi generasi mendatang.