Guru Berbagi: Kolaborasi Guru SMA
Laboratorium UM Menuju Sekolah Sahabat Sungai Bersama JKPKA
Malang, 7
Juli 2026
– SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan kegiatan Guru
Berbagi: Kolaborasi Guru SMA Laboratorium UM Menuju Sekolah Sahabat Sungai
Bersama JKPKA dengan mengusung tema “Penguatan Peran JKPKA dalam
Mewujudkan Pembelajaran Mendalam”. Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru SMA
Laboratorium UM sebagai upaya memperluas wawasan dan memperkuat kolaborasi
dalam mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam pembelajaran yang bermakna dan
kontekstual.
Kegiatan
dibuka oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana yang mewakili
Kepala SMA Laboratorium UM. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi
atas terselenggaranya kegiatan Guru Berbagi yang menghadirkan JKPKA sebagai
salah satu media pembelajaran yang mampu menghubungkan konsep-konsep
pembelajaran dengan permasalahan nyata di lingkungan sekitar peserta didik.
"Semoga
kegiatan Guru Berbagi dari JKPKA ini memberikan tambahan pengetahuan bagi Bapak
dan Ibu untuk mempersiapkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa," ungkap beliau.
Setelah
pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan materi “Sekilas JKPKA dan
Implementasinya dalam Pembelajaran” yang disampaikan oleh Ketua JKPKA
Pusat, Istri Setyowati, M.Pd. Dalam kesempatan tersebut, beliau
menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Kepala SMA Laboratorium UM beserta seluruh
jajaran sekolah telah memberikan ruang bagi JKPKA untuk berbagi dengan Bapak
dan Ibu guru dan memberikan dukungan selama ini terhadap berbagai kegiatan JKPKA.
Sebelum
memasuki materi utama, narasumber mengajak peserta melakukan refleksi melalui
pertanyaan pemantik mengenai pentingnya sungai dalam kehidupan. Pertanyaan
pertama yang diajukan adalah, “Seberapa penting sungai untuk kehidupan?”
Berbagai tanggapan muncul dari peserta. Sebagian menyampaikan bahwa sungai
merupakan sumber air bagi kehidupan manusia, pendukung kegiatan pertanian dan
perikanan, habitat berbagai makhluk hidup, serta sumber kehidupan bagi
masyarakat.
Diskusi semakin menarik ketika narasumber melanjutkan
dengan pertanyaan kedua, “Jika suatu hari sungai di sekitar kita hilang atau
tidak lagi layak digunakan, perubahan apa yang paling pertama akan dirasakan
oleh kehidupan kita?” Pertanyaan tersebut dijawab secara interaktif oleh
peserta. Berbagai pendapat muncul, mulai dari kesulitan memperoleh air bersih,
terganggunya kegiatan pertanian dan perikanan, menurunnya kualitas lingkungan,
hingga dampaknya terhadap kesehatan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
Melalui diskusi tersebut, peserta diajak menyadari bahwa sungai memiliki peran
yang sangat penting dalam menopang kehidupan dan keberlanjutan lingkungan.
Dalam
pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa JKPKA selama ini dikenal sebagai
kegiatan pemantauan kualitas air yang melibatkan kajian fisika, kimia, biologi,
dan geografi. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar melakukan
pengamatan, pengukuran, analisis data, serta penyusunan laporan berdasarkan
kondisi nyata lingkungan.
Namun
demikian, sejalan dengan upaya mewujudkan pembelajaran mendalam, implementasi
JKPKA dapat diperluas melalui kolaborasi lintas mata pelajaran. Tema
lingkungan, khususnya sungai sebagai sumber kehidupan, dapat diintegrasikan ke
dalam berbagai mata pelajaran sehingga memberikan pengalaman belajar yang lebih
bermakna bagi peserta didik.
Pada mata pelajaran Ekonomi, siswa dapat mengkaji nilai
ekonomi sungai dan manfaatnya bagi kehidupan masyarakat. Pada mata pelajaran
Sosiologi, siswa dapat mempelajari perilaku masyarakat dalam memanfaatkan dan
menjaga sungai. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dapat mengembangkan
pemahaman tentang hak dan kewajiban warga negara dalam menjaga lingkungan
hidup, sedangkan mata pelajaran Agama dapat memperkuat nilai-nilai moral dan
tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian alam.
Selain itu, Bahasa Indonesia dapat memfasilitasi siswa
dalam menyusun laporan hasil observasi, artikel ilmiah populer, maupun karya
tulis bertema lingkungan. Matematika dapat memanfaatkan data hasil pemantauan
kualitas air untuk kegiatan analisis statistik dan penyajian data. Mata
pelajaran Seni dapat mengembangkan berbagai media kampanye lingkungan melalui
poster, mural, video kreatif, maupun pameran karya siswa. Sementara itu, PJOK
dapat mengintegrasikan kegiatan susur sungai, aksi bersih sungai, dan aktivitas
luar ruang yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui pendekatan tersebut, JKPKA tidak lagi dipandang
sebagai program yang hanya melibatkan guru sains, melainkan menjadi wadah
kolaborasi seluruh mata pelajaran dalam menciptakan pembelajaran yang
kontekstual, bermakna, dan berdampak nyata bagi peserta didik.
Pada sesi berikutnya, Iqbal Bilgrami, memaparkan pengalaman dan partisipasi
sekolah dalam berbagai kegiatan JKPKA Competition. Peserta memperoleh
gambaran mengenai proses pelaksanaan pemantauan kualitas air, pengolahan data
hasil pengamatan, penyusunan karya ilmiah, hingga strategi pembimbingan peserta
didik dalam mengikuti kompetisi. Berbagai pengalaman yang dibagikan menunjukkan
bahwa kegiatan JKPKA tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga
membentuk keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, kreativitas,
serta kepedulian terhadap lingkungan.
Kegiatan
Guru Berbagi berlangsung dengan penuh antusias. Diskusi dan tanya jawab yang
berkembang menunjukkan tingginya minat para guru untuk mengintegrasikan isu
lingkungan ke dalam pembelajaran sesuai bidang studi masing-masing. Berbagai
gagasan kolaboratif juga muncul sebagai langkah awal dalam mendukung
pengembangan program Sekolah Sahabat Sungai di SMA Laboratorium UM.
Melalui
kegiatan ini, diharapkan semakin banyak guru yang terlibat dalam penguatan
pendidikan lingkungan hidup melalui JKPKA. Dengan kolaborasi lintas mata
pelajaran, pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguasaan konsep, tetapi
juga mampu menumbuhkan kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab peserta didik
terhadap lingkungan sebagai bagian dari kehidupan yang berkelanjutan. Kegiatan
ini sekaligus menjadi langkah nyata SMA Laboratorium UM dalam membangun budaya
sekolah yang peduli lingkungan melalui pengembangan program Sekolah Sahabat
Sungai.
