Surabaya,
29 Agustus 2026 –
Sungai bukan hanya aliran air yang perlu dijaga, tetapi juga dapat menjadi
laboratorium alam dan sumber belajar bagi peserta didik. Semangat tersebut
diwujudkan Jaring-Jaring Komunikasi Pemantauan Kualitas Air (JKPKA) Wilayah
Brantas Hilir melalui Workshop Program Sekolah Sahabat Sungai (3S) di
Tingkat SMA dan Pengenalan Pemantauan Kualitas Air di Tingkat SMP yang
dilaksanakan di SMA Negeri 6 Surabaya, Sabtu (29/8). Mengusung tema “Penguatan
Peran JKPKA dalam Pelestarian Sungai melalui Program Sekolah Sahabat Sungai
untuk Mewujudkan Pembelajaran Mendalam”, kegiatan diikuti oleh 63
peserta dari 30 sekolah di Kota Surabaya, terdiri atas 16 SMA dan 14 SMP. Hadir
dalam kegiatan tersebut Ibu Indah Suryani, M.Pd. selaku Humas SMA Negeri 6
Surabaya yang mewakili Kepala Sekolah, Ibu Ivania Aestrianingsih, S.E. selaku
Humas Perum Jasa Tirta I (PJT I), serta Ibu Istri Setyowati, M.Pd. selaku Ketua
JKPKA Pusat.
Kegiatan
diawali dengan sambutan dari pihak SMA Negeri 6 Surabaya dan Ketua JKPKA Pusat,
kemudian dilanjutkan dengan materi dari Perum Jasa Tirta I mengenai pengelolaan
sumber daya air. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai JKPKA dan Program
Sekolah Sahabat Sungai yang disampaikan oleh Ibu Istri Setyowati, M.Pd. bersama
Bapak Iqbal Bilgrami, M.Pd.nDalam pembekalan tersebut, peserta dikenalkan pada
pemantauan kualitas air melalui aspek fisika, kimia, biologi, dan geografi.
Sungai diperkenalkan sebagai laboratorium alam yang memungkinkan peserta didik
menghubungkan berbagai mata pelajaran dengan kondisi nyata di lingkungan.
Pendekatan ini sejalan dengan Pembelajaran Mendalam, karena peserta
didik belajar melalui pengalaman langsung, pengumpulan data, analisis, diskusi,
refleksi, dan aksi.
Setelah pembekalan, peserta melakukan pemantauan langsung
di Sungai Kalimas selama kurang lebih 1,5 jam. Peserta mengamati kondisi sungai
dan melakukan pengukuran suhu, kekeruhan menggunakan cakram Secchi, kecepatan
arus, serta beberapa parameter kimia. Pengukuran indikator kimia dilakukan
menggunakan paper strip , sedangkan pengamatan biologis dilakukan melalui
identifikasi makroinvertebrata yang ditemukan di lokasi.
Dari aspek geografi, peserta juga mengamati pemanfaatan Sungai Kalimas oleh
masyarakat. Kawasan sungai dimanfaatkan sebagai ruang terbuka dan taman
rekreasi, sementara di beberapa bagian masih dijumpai warga yang memanfaatkan
sungai untuk memancing. Pengamatan ini menunjukkan bahwa sungai memiliki fungsi
ekologis sekaligus sosial bagi masyarakat.
Setelah seluruh kelompok menyelesaikan pemantauan, data
yang diperoleh dibawa kembali ke sekolah untuk dianalisis melalui diskusi
kelompok. Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil pengamatannya. Dari
proses inilah peserta memperoleh gambaran mengenai kondisi Sungai Kalimas
berdasarkan berbagai parameter yang telah diamati.
Hasil pemantauan menunjukkan suhu air berkisar 28–29°C, kedalam cakram Sechi berkisar 14–30 cm
menunjukkan air sungai Kalimas cukup keruh , dan kecepatan arus sekitar 0,13–0,154
m/s dengan kategori lambat. Hasil
pembacaan pH menggunakan paper strip berada pada kisaran sekitar 6–7, sehingga
air cenderung sedikit asam hingga mendekati netral. Pada beberapa pengukuran
juga terdeteksi nitrat, Fe, Pb dan
klorin dengan hasil yang bervariasi antarkelompk. Khusus untuk Pb, sebagian
hasil menunjukkan 0 ppb/tidak terdeteksi, sedangkan beberapa pengukuran
menunjukkan 20 ppb. Variasi data tersebut menjadi bahan diskusi peserta untuk
memahami pentingnya pengulangan pengukuran, ketelitian prosedur, serta
kehati-hatian dalam menginterpretasikan hasil pemantauan.
Hasil
pengamatan biologis juga menemukan beberapa makroinvertebrata, seperti cacing
pipih, cacing rambut, siput air tawar, lintah, larva mrutu, dan kepiting
sungai. Berdasarkan pengolahan data menggunakan indikator yang diterapkan dalam
kegiatan, nilai IKA kelompok berada pada kisaran 3,25–4,5 dan menunjukkan
kondisi sungai dalam kategori kotor.
Setelah
seluruh kelompok mempresentasikan hasilnya, kegiatan dilanjutkan dengan
refleksi. Salah satu refleksi disampaikan oleh guru peserta dari SMA
Al Hikmah Surabya. Ia menyampaikan bahwa kegiatan JKPKA telah membuka wawasan
sekolah untuk lebih mengenal kondisi lingkungan di sekitarnya, khususnya Sungai
Kalimas. Pemahaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran untuk
bersama-sama menjaga lingkungan perairan, terutama sungai. Ia juga berharap ke
depan sekolah dapat bekerja sama dengan JKPKA dalam melaksanakan kegiatan
kokurikuler yang berkaitan dengan lingkungan dan pemantauan kualitas air.
Refleksi tersebut menjadi gambaran bahwa Program Sekolah
Sahabat Sungai tidak berhenti pada kegiatan pemantauan, tetapi dapat berkembang
menjadi kolaborasi dan aksi berkelanjutan di sekolah. Melalui sinergi JKPKA,
PJT I, sekolah, guru, dan peserta didik, sungai diharapkan semakin dekat dengan
proses pembelajaran sekaligus menjadi ruang tumbuhnya kepedulian generasi muda
terhadap lingkungan.
