0857000000001
mrjkpka@jkpka.id
Jl. Bromo No. 16, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119 Indonesia
Dari Observasi hingga Aksi, JKPKA Brantas Hilir Wujudkan Pembelajaran Mendalam melalui Sekolah Sahabat Sungai

Surabaya, 29 Agustus 2026 – Sungai bukan hanya aliran air yang perlu dijaga, tetapi juga dapat menjadi laboratorium alam dan sumber belajar bagi peserta didik. Semangat tersebut diwujudkan Jaring-Jaring Komunikasi Pemantauan Kualitas Air (JKPKA) Wilayah Brantas Hilir melalui Workshop Program Sekolah Sahabat Sungai (3S) di Tingkat SMA dan Pengenalan Pemantauan Kualitas Air di Tingkat SMP yang dilaksanakan di SMA Negeri 6 Surabaya, Sabtu (29/8). Mengusung tema “Penguatan Peran JKPKA dalam Pelestarian Sungai melalui Program Sekolah Sahabat Sungai untuk Mewujudkan Pembelajaran Mendalam”, kegiatan diikuti oleh 63 peserta dari 30 sekolah di Kota Surabaya, terdiri atas 16 SMA dan 14 SMP. Hadir dalam kegiatan tersebut Ibu Indah Suryani, M.Pd. selaku Humas SMA Negeri 6 Surabaya yang mewakili Kepala Sekolah, Ibu Ivania Aestrianingsih, S.E. selaku Humas Perum Jasa Tirta I (PJT I), serta Ibu Istri Setyowati, M.Pd. selaku Ketua JKPKA Pusat.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari pihak SMA Negeri 6 Surabaya dan Ketua JKPKA Pusat, kemudian dilanjutkan dengan materi dari Perum Jasa Tirta I mengenai pengelolaan sumber daya air. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai JKPKA dan Program Sekolah Sahabat Sungai yang disampaikan oleh Ibu Istri Setyowati, M.Pd. bersama Bapak Iqbal Bilgrami, M.Pd.nDalam pembekalan tersebut, peserta dikenalkan pada pemantauan kualitas air melalui aspek fisika, kimia, biologi, dan geografi. Sungai diperkenalkan sebagai laboratorium alam yang memungkinkan peserta didik menghubungkan berbagai mata pelajaran dengan kondisi nyata di lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan Pembelajaran Mendalam, karena peserta didik belajar melalui pengalaman langsung, pengumpulan data, analisis, diskusi, refleksi, dan aksi.

Setelah pembekalan, peserta melakukan pemantauan langsung di Sungai Kalimas selama kurang lebih 1,5 jam. Peserta mengamati kondisi sungai dan melakukan pengukuran suhu, kekeruhan menggunakan cakram Secchi, kecepatan arus, serta beberapa parameter kimia. Pengukuran indikator kimia dilakukan menggunakan paper strip , sedangkan pengamatan biologis dilakukan melalui identifikasi makroinvertebrata yang ditemukan di lokasi.

Dari aspek geografi, peserta juga mengamati pemanfaatan Sungai Kalimas oleh masyarakat. Kawasan sungai dimanfaatkan sebagai ruang terbuka dan taman rekreasi, sementara di beberapa bagian masih dijumpai warga yang memanfaatkan sungai untuk memancing. Pengamatan ini menunjukkan bahwa sungai memiliki fungsi ekologis sekaligus sosial bagi masyarakat.

Setelah seluruh kelompok menyelesaikan pemantauan, data yang diperoleh dibawa kembali ke sekolah untuk dianalisis melalui diskusi kelompok. Setiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil pengamatannya. Dari proses inilah peserta memperoleh gambaran mengenai kondisi Sungai Kalimas berdasarkan berbagai parameter yang telah diamati.

Hasil pemantauan menunjukkan suhu air berkisar 28–29°C,  kedalam cakram Sechi berkisar 14–30 cm menunjukkan air sungai Kalimas cukup keruh , dan kecepatan arus sekitar 0,13–0,154 m/s dengan kategori lambat. Hasil pembacaan pH menggunakan paper strip berada pada kisaran sekitar 6–7, sehingga air cenderung sedikit asam hingga mendekati netral. Pada beberapa pengukuran juga terdeteksi  nitrat, Fe, Pb dan klorin dengan hasil yang bervariasi antarkelompk. Khusus untuk Pb, sebagian hasil menunjukkan 0 ppb/tidak terdeteksi, sedangkan beberapa pengukuran menunjukkan 20 ppb. Variasi data tersebut menjadi bahan diskusi peserta untuk memahami pentingnya pengulangan pengukuran, ketelitian prosedur, serta kehati-hatian dalam menginterpretasikan hasil pemantauan.

Hasil pengamatan biologis juga menemukan beberapa makroinvertebrata, seperti cacing pipih, cacing rambut, siput air tawar, lintah, larva mrutu, dan kepiting sungai. Berdasarkan pengolahan data menggunakan indikator yang diterapkan dalam kegiatan, nilai IKA kelompok berada pada kisaran 3,25–4,5 dan menunjukkan kondisi sungai dalam kategori kotor.

Setelah seluruh kelompok mempresentasikan hasilnya, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi. Salah satu refleksi disampaikan oleh guru peserta dari SMA Al Hikmah Surabya. Ia menyampaikan bahwa kegiatan JKPKA telah membuka wawasan sekolah untuk lebih mengenal kondisi lingkungan di sekitarnya, khususnya Sungai Kalimas. Pemahaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran untuk bersama-sama menjaga lingkungan perairan, terutama sungai. Ia juga berharap ke depan sekolah dapat bekerja sama dengan JKPKA dalam melaksanakan kegiatan kokurikuler yang berkaitan dengan lingkungan dan pemantauan kualitas air.

Refleksi tersebut menjadi gambaran bahwa Program Sekolah Sahabat Sungai tidak berhenti pada kegiatan pemantauan, tetapi dapat berkembang menjadi kolaborasi dan aksi berkelanjutan di sekolah. Melalui sinergi JKPKA, PJT I, sekolah, guru, dan peserta didik, sungai diharapkan semakin dekat dengan proses pembelajaran sekaligus menjadi ruang tumbuhnya kepedulian generasi muda terhadap lingkungan.

Dari observasi lahir pengetahuan, dari pengetahuan tumbuh kepedulian, dan dari kepedulian lahir aksi untuk menjaga sungai.