Magetan – Sebanyak 60 peserta yang terdiri
atas guru pembimbing dan siswa anggota JKPKA dari 25 sekolah SMA/MA/SMK, SMP,
dan MTs di Kabupaten Magetan, serta perwakilan dari lima SMA di wilayah Madiun
dan Saradan, mengikuti kegiatan Workshop Sekolah Sahabat Sungai dan Pengenalan
Pemantauan Kualitas Air Sungai di Wilayah DAS Bengawan Solo Kabupaten Magetan.
Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Peran JKPKA dalam Pelestarian Sungai
melalui Program Sekolah Sahabat Sungai untuk Mewujudkan Pembelajaran Mendalam”
ini diselenggarakan di SMAN 1 Plaosan, Kabupaten Magetan.
Kegiatan
tersebut dihadiri oleh Kepala SMAN 1 Plaosan Bapak Wahyu Kurniawan, Ketua MKKS
SMA Kabupaten Magetan Bapak Arif Harmono, Ketua JKPKA Pusat Ibu Istri
Setyowati, Koordinator Wilayah JKPKA Bengawan Solo, Ibu Yuli Chasanah, serta
Bapak Syaifudin selaku Kasub Humas Bengawan Solo Perum Jasa Tirta I. Kegiatan
juga menghadirkan Iqbal Bilgrami sebagai narasumber dari JKPKA.
Kegiatan
diawali dengan sambutan Kepala SMAN 1 Plaosan, Bapak Wahyu Kurniawan. Dalam
sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang
mempertemukan guru dan peserta didik dari berbagai jenjang sekolah untuk
belajar bersama mengenai pelestarian sungai. Kegiatan ini menjadi kesempatan
bagi sekolah untuk memperkuat kepedulian peserta didik terhadap lingkungan,
khususnya keberadaan dan kelestarian sumber daya air. Ketua MKKS SMA Kabupaten
Magetan, Bapak Arif Harmono, menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan Program
Sekolah Sahabat Sungai. Kegiatan yang menghubungkan pembelajaran dengan kondisi
lingkungan secara langsung memberikan ruang bagi peserta didik untuk memperoleh
pengalaman belajar yang kontekstual sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap
lingkungan. Sementara itu, Koordinator Wilayah JKPKA Bengawan Solo, Yuli
Chasanah, menekankan pentingnya memperkuat jejaring sekolah peduli sungai di
wilayah DAS Bengawan Solo. Ia berharap sekolah-sekolah yang tergabung dalam
JKPKA dapat terus berkolaborasi dalam kegiatan pemantauan kualitas air dan
pelestarian lingkungan.
Dalam
sambutan singkatnya, Ketua JKPKA Pusat, Istri Setyowati, menyampaikan bahwa kegiatan di Kabupaten
Magetan pada tahun 2026 ini merupakan Workshop Program Sekolah Sahabat Sungai
yang ketujuh yang telah dilaksanakan JKPKA. Program ini diharapkan dapat
memperkuat peran sekolah dalam pelestarian sungai sekaligus menjadi sarana
implementasi Pembelajaran Mendalam melalui pengalaman belajar yang autentik,
kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.
Kegiatan
secara resmi dibuka oleh Bapak Syaifudin, Kasub Humas Bengawan Solo Perum Jasa
Tirta I (PJT I). Selain membuka kegiatan, Bapak Syaifudin juga
menyampaikan materi mengenai peran Perum Jasa Tirta I dalam pengelolaan sumber
daya air. Peserta memperoleh wawasan mengenai pengelolaan sumber daya air serta
pentingnya kolaborasi berbagai pihak, termasuk sekolah dan masyarakat, dalam
menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Memasuki sesi workshop, Ketua JKPKA Pusat, Istri
Setyowati, menyampaikan materi mengenai
JKPKA dan Program Sekolah Sahabat Sungai (3S) sebagai upaya mewujudkan
Pembelajaran Mendalam melalui aksi nyata pemantauan kualitas air sungai. Dalam
paparannya dijelaskan bahwa sungai dapat menjadi laboratorium alam yang
memungkinkan peserta didik belajar secara langsung melalui proses mengamati,
mengumpulkan data, menganalisis, merefleksikan, dan mengomunikasikan hasil
pengamatan. Peserta juga diperkenalkan pada teknik pemantauan kualitas air
sungai melalui pendekatan fisika, kimia, dan geografi. Materi mencakup
pengamatan kondisi fisik sungai, pengukuran parameter kualitas air,
identifikasi potensi sumber pencemar, serta pengamatan karakteristik lingkungan
di sekitar sungai. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diajak untuk
memahami hubungan antara aktivitas manusia dengan kondisi kualitas lingkungan
perairan.
Materi kemudian dilanjutkan oleh Iqbal Bilgrami yang
memperkenalkan metode bioassessment, indeks keanekaragaman dan indeks
kemerataan untuk pendekatan biologis dalam pemantauan kualitas air sungai.
Peserta dikenalkan pada berbagai organisme indikator yang dapat digunakan untuk
menilai kondisi kualitas perairan. Melalui pendekatan ini, peserta memahami
bahwa keberadaan organisme tertentu dapat memberikan informasi mengenai tingkat
pencemaran dan kesehatan ekosistem sungai
Setelah
memperoleh pembekalan, peserta tidak hanya berhenti pada kegiatan di dalam
ruangan. Mereka diajak melakukan praktik langsung pemantauan kualitas air di
Sungai Seguntur Pacalan, yang merupakan bagian hulu dari Sungai Gandong di
wilayah DAS Bengawan Solo.Peserta bekerja dalam kelompok untuk melakukan
pengamatan terhadap kondisi sungai melalui aspek fisika, kimia, biologi, dan
geografi. Data yang
diperoleh kemudian dianalisis dan didiskusikan untuk mendapatkan gambaran
kondisi kualitas air Sungai Seguntur Pacalan.
Berdasarkan hasil analisis data pemantauan peserta, secara fisik kondisi air Sungai Seguntur Pacalan yang diamati melalui warna, bau, serta pengukuran kekeruhan masih menunjukkan kondisi yang cukup baik. Hasil pengamatan tersebut memberikan gambaran bahwa secara fisik kondisi air pada titik-titik pengamatan masih relatif baik. Sementara itu, dari aspek kimia, hasil pengukuran menggunakan paper strip pH menunjukkan nilai pH berkisar 6,2 sehingga air sungai pada titik pengamatan cenderung asam. Kandungan nitrat terdeteksi pada beberapa titik pengamatan dengan nilai sekitar 10 mg/L, yang mengindikasikan adanya masukan bahan organik atau limpasan aktivitas pertanian di sekitar daerah aliran sungai. Pada beberapa titik pengamatan terdeteksi keberadaan logam tertentu seperti besi (Fe), tembaga (Cu), dan kromium (Cr) yang menunjukkan perlunya pemantauan lanjutan untuk memperoleh gambaran kualitas air yang lebih komprehensif.
Temuan tersebut
menjadi bahan penting bagi peserta untuk memahami bahwa kondisi sungai tidak
dapat dinilai hanya berdasarkan penampakan fisiknya. Air yang secara visual
terlihat cukup baik tetap perlu dikaji melalui berbagai parameter, termasuk
parameter kimia dan biologi. Hasil pemantauan juga menjadi dasar bagi peserta
untuk mendiskusikan kemungkinan sumber pencemar serta pentingnya pemantauan
secara berkala. Dari aspek biologi, peserta melakukan bioassessment untuk
mengetahui kondisi kualitas air berdasarkan keberadaan organisme indikator. Hasil
pengamatan menggunakan indeks IKA menunjukkan nilai rata-rata sekitar 3,2–3,4,
yang mengindikasikan kondisi kualitas air berdasarkan parameter biologis berada
pada kategori kotor.
Adapun dari perhitungan nilai indeks Simpson (D) sebesar
0,843 menunjukkan keanekaragaman tinggi. Indeks Shannon-Wiener (H′) sebesar
1,894 termasuk kategori keanekaragaman sedang, sedangkan indeks kemerataan (E)
sebesar 0,973 menunjukkan komunitas stabil dan persebaran individu antarspesies
relatif merata. Ditemukannya berbagai organisme air seperti larva, nimfa,
siput, lintah, dan udang menunjukkan adanya komunitas makroinvertebrata yang
hidup di dalam ekosistem sungai. Berdasarkan hasil pengamatan, sungai Sengguntur
Pacalan memiliki komponen biotik yang beragam dan relatif merata dan memiliki keanekaragaman
yang cukup baik dan komunitas yang stabil.
Perbedaan hasil pada aspek fisika, kimia, dan biologi
tersebut memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta. Peserta
diajak melihat bahwa kualitas suatu sungai merupakan kondisi yang kompleks dan
perlu dikaji menggunakan berbagai indikator secara terpadu.
Hasil pemantauan kemudian menjadi bahan analisis, diskusi, dan komunikasi
hasil antarkelompok. Peserta tidak hanya menyampaikan angka hasil pengukuran,
tetapi juga belajar menghubungkan data dengan kondisi lingkungan sungai serta
mendiskusikan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air.
Kegiatan lapangan tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata
implementasi Pembelajaran Mendalam. Peserta mengalami secara langsung proses
memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan yang diperoleh.
Pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman konsep tentang pencemaran dan
kualitas air, tetapi dilanjutkan dengan pengalaman nyata mengamati sungai,
memperoleh data, menganalisis temuan, dan memikirkan aksi yang dapat dilakukan.
Melalui kegiatan Workshop Sekolah Sahabat Sungai dan
Pengenalan Pemantauan Kualitas Air Sungai ini, JKPKA terus mendorong penguatan
jejaring sekolah peduli sungai di wilayah DAS Bengawan Solo. Keterlibatan guru
dan peserta didik dari berbagai jenjang diharapkan dapat menjadi langkah awal
untuk mengembangkan kegiatan pemantauan kualitas air sebagai bagian dari
pembelajaran sekaligus aksi nyata pelestarian lingkungan.
Kolaborasi antara JKPKA, Perum Jasa Tirta I, sekolah, MKKS, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat terus diperkuat sehingga Program Sekolah Sahabat Sungai tidak berhenti pada kegiatan workshop, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan. Dengan demikian, sungai tidak hanya menjadi objek yang dipelajari, tetapi juga menjadi ruang belajar nyata bagi peserta didik untuk membangun pengetahuan, keterampilan, kepedulian, dan aksi pelestarian lingkungan.
