0857000000001
mrjkpka@jkpka.id
Jl. Bromo No. 16, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119 Indonesia
Sekolah Sahabat Sungai (3S) Hadir di Kediri, Guru dan Siswa SMP–SMA Belajar Langsung Memantau Kualitas Air Sungai Brantas Bersama JKPKA dan Perum Jasa Tirta 1

Sekolah Sahabat Sungai (3S) Hadir di Kediri, Guru dan Siswa SMP–SMA Belajar Langsung Memantau Kualitas Air Sungai Brantas Bersama JKPKA dan Perum Jasa Tirta 1

Kabupaten Kediri  ̶  Sabtu, 25 Juli 2026 JKPKA wilayah DAS Brantas Tengah bekerja sama dengan Perum Jasa Tirta 1 (PJT 1) memperluas cakupan pemantauan kualitas air sungai di wilayah Kediri. Untuk pertama kalinya, Kab. Kediri dipilih untuk penyelenggaraan pemantauan kualitas air sungai melului Program Sekolah Sahabat Sungai di Tingkat SMA dan Pengenalan Pemantauan Kualitas Air di Tingkat SMP dengan tema “Penguatan Peran JKPKA dalam Pelestarian Sungai melalui Program Sekolah Sahabat Sungai”. Wilayah DAS Brantas Tengah seringkali dilaksanakan di Tulungagung, seperti pada awal tahun 2026 telah dilakukan kegiatan yang serupa, namun anggota guru dan siswa hanya fokus pada jenjang SMA/Sederajat sehingga perlu dilakukan perluasan pengenalan kegiatan JKPKA pada jenjang SMP/Sederajat. Kabupaten Kediri dipilih dikarenakan lokasinya yang strategis untuk menghubungkan wilayah Tulungagung dengan Nganjuk sehingga sosialisasi program JKPKA bisa semakin masif dan efektif.

Kegiatan dibuka oleh Ibu Ivania Aestrianingsih. S.E selaku Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi Korporat Perum Jasa Tirta 1. Ketua JKPKA Ibu Istri Setyowati, M.Pd berharap kegiatan ini dapat diseminasikan di sekolah bapak/ibu guru masing-masing sehingga kedepannya sekolah yang peduli dengan ekosistem sungai menjadi bertambah sesuai dengan program tahun 2026 yaitu menciptakan Sekolah Sahat Sungai (3S) dengan jargon ”Jaga Sungai, Jaga Air untuk Masa Depan” serta Koordinator Wilayah DAS Brantas Tengah Ibu Sri Susanti, M.Pd menyampaikan jumlah peserta kegiatan meliputi jenjang SMP/Sederajat sebanyak 17 sekolah dan SMA/Sederajat sebanyak 13 sekolah dengan masing-masing terdiri dari satu guru (IPA/Biologi/Kimia/Fisika/Geografi) dan satu siswa perwakilan sekolah. Peserta kegiatan berasal dari Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Nganjuk.

Kegiatan berlangsung di dua tempat, tempat pertemuan dilakukan di Gedung Sorga, Desa Kedak, Kec. Semen Kabupetan Kediri dan lokasi pemantauan kualitas air sungai di sungai Kedak. Penyampaian materi pertama terkait Peran PJT I dalam Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) yang disampaikan oleh Ibu Ivania, peserta kegiaan memperhatikan dan menyimak pemaparan materi seperti wilayah sungai yang dikelola PJT 1, pendistribusian baku mutu air, pemanfaatan air untuk irigasi pertanian hingga pembangkit listrik dengan berbagai bendungan-bendungan yang dikelola serta bagaimana upaya PJT 1 untuk mengastur debit air di musim kemarau maupun mengontrol potensi banjir di musim penghujan. Materi kedua disampaikan oleh Ibu Istri dengan topik pengenalan JKPKA dan implementasi water inquiry dalam berbagai kegiatan sekolah seperti kegiatan intrakurikuler terintegrasi mata pelajaran, kokurikuler maupun ekstrakurikuler yang relevan dengan lingkungan sungai seperti KIR, Pramuka dan Pecinta Alam. Materi ketiga disampaikan oleh Bapak Iqbal Bilgrami B, S.Pd. tentang Indeks Kualitas Air (IKA) metode biomonitoring dan Indeks Ekologi untuk menilai kesehatan komunitas sungai seperti aspek keankeragaman, kemerataan dan kekayaan spesies. Bapak Zein Fata Husnul Karima, S.Pd bertugas sebagai koordinator lapangan selama proses pemantauan kualitas air sungai mengoordinir kelompok pemantaun menuju lokasi sungai serta dibantu oleh tim JKPKA di setiap kelompok untuk membimbing pengumpulan data.

Data yang dikumpulkan oleh masing-masing kelompok diperoleh bahwa terdapat beberapa kandungan kimia yang melebihi batas baku mutu air sehingga air pada sungai Desa Kedak tidak dikategorikan sebagai kelas I dikarenakan kadar florida yang cukup tinggi (50-100 mg/L) dan besi (FE) sebesar 0,3 mg/L sehingga lebih cocok untuk pemanfaatan di bidang pertanian, peternakan maupun rekreasi, sedangkan untuk pH air berkisar antara 6,2 – 8,4, tidak ada kandungan nitrit dan nitrat yang terdeteksi begitu juga dengan kandungan logam berbahaya seperti timbal dan merkuri. Pada aspek fisik diperoleh suhu air berkisar antara 25–27˚C dengan kecepatan arus berkisar 0,11–012 m/s, dan kekeruhan terukur sebesar 67cm dengan kategori  dan air sungai yang tergolong jernih. Indeks kualitas air secara biologi masuk  kategori sedang dikarenakan masih ditemukan cukup banyak makroinvertebrata yang sensisitf terhadap polutan seperti anggang-anggang dan larva capung, sedangkan untuk indeks keanekaragaman masih termasuk keanekaragaman sedang. Berdasarkan aspek geografi sungai termasuk sungai permanen dengan bentuk DAS-nya “V” dengan pola aliran sentrifugal dan arah aliran konsekuen serta pemanfaatan sungai oleh warga sebagai irigasi ladang pertanian.

 

Kegiatan praktik langsung ke sungai, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman nyata dalam melakukan pemantauan kualitas air dan memahami hubungan antara kondisi lingkungan dengan keberadaan organisme perairan. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) yang mendorong peserta didik untuk belajar secara kontekstual, kolaboratif, dan berbasis pengalaman langsung.

Dengan Program Sekolah Sahabat Sungai (3S), JKPKA berharap sekolah-sekolah peserta dapat mengembangkan kegiatan pemantauan kualitas air secara berkelanjutan sebagai bagian dari pendidikan lingkungan hidup khususnya ekosistem sungai yang dekat dengan sekolah. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga menjadi pencetak agen perubahan dalam menumbuhkan kepedulian lingkungan, pelestarian dan pemberdayaan air yang berkelanjutan.