0857000000001
mrjkpka@jkpka.id
Jl. Bromo No. 16, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119 Indonesia
Belajar dari Sungai Seguntur Pacalan, JKPKA Perkuat Program Sekolah Sahabat Sungai di Magetan

Magetan – Sebanyak 60 peserta yang terdiri atas guru pembimbing dan siswa anggota JKPKA dari 25 sekolah SMA/MA/SMK, SMP, dan MTs di Kabupaten Magetan, serta perwakilan dari lima SMA di wilayah Madiun dan Saradan, mengikuti kegiatan Workshop Sekolah Sahabat Sungai dan Pengenalan Pemantauan Kualitas Air Sungai di Wilayah DAS Bengawan Solo Kabupaten Magetan. Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Peran JKPKA dalam Pelestarian Sungai melalui Program Sekolah Sahabat Sungai untuk Mewujudkan Pembelajaran Mendalam” ini diselenggarakan di SMAN 1 Plaosan, Kabupaten Magetan.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala SMAN 1 Plaosan Bapak Wahyu Kurniawan, Ketua MKKS SMA Kabupaten Magetan Bapak Arif Harmono, Ketua JKPKA Pusat Ibu Istri Setyowati, Koordinator Wilayah JKPKA Bengawan Solo, Ibu Yuli Chasanah, serta Bapak Syaifudin selaku Kasub Humas Bengawan Solo Perum Jasa Tirta I. Kegiatan juga menghadirkan Iqbal Bilgrami sebagai narasumber dari JKPKA.

Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala SMAN 1 Plaosan, Bapak Wahyu Kurniawan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang mempertemukan guru dan peserta didik dari berbagai jenjang sekolah untuk belajar bersama mengenai pelestarian sungai. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi sekolah untuk memperkuat kepedulian peserta didik terhadap lingkungan, khususnya keberadaan dan kelestarian sumber daya air. Ketua MKKS SMA Kabupaten Magetan, Bapak Arif Harmono, menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan Program Sekolah Sahabat Sungai. Kegiatan yang menghubungkan pembelajaran dengan kondisi lingkungan secara langsung memberikan ruang bagi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar yang kontekstual sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Sementara itu, Koordinator Wilayah JKPKA Bengawan Solo, Yuli Chasanah, menekankan pentingnya memperkuat jejaring sekolah peduli sungai di wilayah DAS Bengawan Solo. Ia berharap sekolah-sekolah yang tergabung dalam JKPKA dapat terus berkolaborasi dalam kegiatan pemantauan kualitas air dan pelestarian lingkungan.

Dalam sambutan singkatnya, Ketua JKPKA Pusat, Istri Setyowati,  menyampaikan bahwa kegiatan di Kabupaten Magetan pada tahun 2026 ini merupakan Workshop Program Sekolah Sahabat Sungai yang ketujuh yang telah dilaksanakan JKPKA. Program ini diharapkan dapat memperkuat peran sekolah dalam pelestarian sungai sekaligus menjadi sarana implementasi Pembelajaran Mendalam melalui pengalaman belajar yang autentik, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Bapak Syaifudin, Kasub Humas Bengawan Solo Perum Jasa Tirta I (PJT I). Selain membuka kegiatan, Bapak Syaifudin juga menyampaikan materi mengenai peran Perum Jasa Tirta I dalam pengelolaan sumber daya air. Peserta memperoleh wawasan mengenai pengelolaan sumber daya air serta pentingnya kolaborasi berbagai pihak, termasuk sekolah dan masyarakat, dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.

Memasuki sesi workshop, Ketua JKPKA Pusat, Istri Setyowati,  menyampaikan materi mengenai JKPKA dan Program Sekolah Sahabat Sungai (3S) sebagai upaya mewujudkan Pembelajaran Mendalam melalui aksi nyata pemantauan kualitas air sungai. Dalam paparannya dijelaskan bahwa sungai dapat menjadi laboratorium alam yang memungkinkan peserta didik belajar secara langsung melalui proses mengamati, mengumpulkan data, menganalisis, merefleksikan, dan mengomunikasikan hasil pengamatan. Peserta juga diperkenalkan pada teknik pemantauan kualitas air sungai melalui pendekatan fisika, kimia, dan geografi. Materi mencakup pengamatan kondisi fisik sungai, pengukuran parameter kualitas air, identifikasi potensi sumber pencemar, serta pengamatan karakteristik lingkungan di sekitar sungai. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diajak untuk memahami hubungan antara aktivitas manusia dengan kondisi kualitas lingkungan perairan.

Materi kemudian dilanjutkan oleh Iqbal Bilgrami yang memperkenalkan metode bioassessment, indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan untuk pendekatan biologis dalam pemantauan kualitas air sungai. Peserta dikenalkan pada berbagai organisme indikator yang dapat digunakan untuk menilai kondisi kualitas perairan. Melalui pendekatan ini, peserta memahami bahwa keberadaan organisme tertentu dapat memberikan informasi mengenai tingkat pencemaran dan kesehatan ekosistem sungai

Setelah memperoleh pembekalan, peserta tidak hanya berhenti pada kegiatan di dalam ruangan. Mereka diajak melakukan praktik langsung pemantauan kualitas air di Sungai Seguntur Pacalan, yang merupakan bagian hulu dari Sungai Gandong di wilayah DAS Bengawan Solo.Peserta bekerja dalam kelompok untuk melakukan pengamatan terhadap kondisi sungai melalui aspek fisika, kimia, biologi, dan geografi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan didiskusikan untuk mendapatkan gambaran kondisi kualitas air Sungai Seguntur Pacalan.

Berdasarkan hasil analisis data pemantauan peserta, secara fisik kondisi air Sungai Seguntur Pacalan yang diamati melalui warna, bau, serta pengukuran kekeruhan masih menunjukkan kondisi yang cukup baik. Hasil pengamatan tersebut memberikan gambaran bahwa secara fisik kondisi air pada titik-titik pengamatan masih relatif baik. Sementara itu, dari aspek kimia, hasil pengukuran menggunakan paper strip pH menunjukkan nilai pH berkisar 6,2 sehingga air sungai pada titik pengamatan cenderung asam. Kandungan nitrat terdeteksi pada beberapa titik pengamatan dengan nilai sekitar 10 mg/L, yang mengindikasikan adanya masukan bahan organik atau limpasan aktivitas pertanian di sekitar daerah aliran sungai. Pada beberapa titik pengamatan terdeteksi keberadaan logam tertentu seperti besi (Fe), tembaga (Cu), dan kromium (Cr) yang menunjukkan perlunya pemantauan lanjutan untuk memperoleh gambaran kualitas air yang lebih komprehensif.

         Temuan tersebut menjadi bahan penting bagi peserta untuk memahami bahwa kondisi sungai tidak dapat dinilai hanya berdasarkan penampakan fisiknya. Air yang secara visual terlihat cukup baik tetap perlu dikaji melalui berbagai parameter, termasuk parameter kimia dan biologi. Hasil pemantauan juga menjadi dasar bagi peserta untuk mendiskusikan kemungkinan sumber pencemar serta pentingnya pemantauan secara berkala. Dari aspek biologi, peserta melakukan bioassessment untuk mengetahui kondisi kualitas air berdasarkan keberadaan organisme indikator. Hasil pengamatan menggunakan indeks IKA menunjukkan nilai rata-rata sekitar 3,2–3,4, yang mengindikasikan kondisi kualitas air berdasarkan parameter biologis berada pada kategori kotor.

Adapun dari perhitungan nilai indeks Simpson (D) sebesar 0,843 menunjukkan keanekaragaman tinggi. Indeks Shannon-Wiener (H′) sebesar 1,894 termasuk kategori keanekaragaman sedang, sedangkan indeks kemerataan (E) sebesar 0,973 menunjukkan komunitas stabil dan persebaran individu antarspesies relatif merata. Ditemukannya berbagai organisme air seperti larva, nimfa, siput, lintah, dan udang menunjukkan adanya komunitas makroinvertebrata yang hidup di dalam ekosistem sungai. Berdasarkan hasil pengamatan, sungai Sengguntur Pacalan memiliki komponen biotik yang beragam dan relatif merata dan memiliki keanekaragaman yang cukup baik dan komunitas yang stabil.

Perbedaan hasil pada aspek fisika, kimia, dan biologi tersebut memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta. Peserta diajak melihat bahwa kualitas suatu sungai merupakan kondisi yang kompleks dan perlu dikaji menggunakan berbagai indikator secara terpadu.

Hasil pemantauan kemudian menjadi bahan analisis, diskusi, dan komunikasi hasil antarkelompok. Peserta tidak hanya menyampaikan angka hasil pengukuran, tetapi juga belajar menghubungkan data dengan kondisi lingkungan sungai serta mendiskusikan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air.

Kegiatan lapangan tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata implementasi Pembelajaran Mendalam. Peserta mengalami secara langsung proses memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan yang diperoleh. Pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman konsep tentang pencemaran dan kualitas air, tetapi dilanjutkan dengan pengalaman nyata mengamati sungai, memperoleh data, menganalisis temuan, dan memikirkan aksi yang dapat dilakukan.

Melalui kegiatan Workshop Sekolah Sahabat Sungai dan Pengenalan Pemantauan Kualitas Air Sungai ini, JKPKA terus mendorong penguatan jejaring sekolah peduli sungai di wilayah DAS Bengawan Solo. Keterlibatan guru dan peserta didik dari berbagai jenjang diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan kegiatan pemantauan kualitas air sebagai bagian dari pembelajaran sekaligus aksi nyata pelestarian lingkungan.

Kolaborasi antara JKPKA, Perum Jasa Tirta I, sekolah, MKKS, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat terus diperkuat sehingga Program Sekolah Sahabat Sungai tidak berhenti pada kegiatan workshop, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan. Dengan demikian, sungai tidak hanya menjadi objek yang dipelajari, tetapi juga menjadi ruang belajar nyata bagi peserta didik untuk membangun pengetahuan, keterampilan, kepedulian, dan aksi pelestarian lingkungan.