Sekolah Sahabat Sungai (3S) Hadir di Kediri,
Guru dan Siswa SMP–SMA Belajar Langsung Memantau Kualitas Air Sungai Brantas
Bersama JKPKA dan Perum Jasa Tirta 1
Kabupaten Kediri ̶
Sabtu, 25 Juli 2026 JKPKA wilayah DAS Brantas Tengah bekerja sama dengan
Perum Jasa Tirta 1 (PJT 1) memperluas cakupan pemantauan kualitas air sungai di
wilayah Kediri. Untuk pertama kalinya, Kab. Kediri dipilih untuk
penyelenggaraan pemantauan kualitas air sungai melului Program Sekolah Sahabat
Sungai di Tingkat SMA dan Pengenalan Pemantauan Kualitas Air di Tingkat SMP
dengan tema “Penguatan Peran JKPKA dalam Pelestarian Sungai melalui Program
Sekolah Sahabat Sungai”. Wilayah DAS Brantas Tengah seringkali dilaksanakan
di Tulungagung, seperti pada awal tahun 2026 telah dilakukan kegiatan yang
serupa, namun anggota guru dan siswa hanya fokus pada jenjang SMA/Sederajat
sehingga perlu dilakukan perluasan pengenalan kegiatan JKPKA pada jenjang
SMP/Sederajat. Kabupaten Kediri dipilih dikarenakan lokasinya yang strategis
untuk menghubungkan wilayah Tulungagung dengan Nganjuk sehingga sosialisasi
program JKPKA bisa semakin masif dan efektif.
Kegiatan dibuka oleh Ibu Ivania Aestrianingsih. S.E selaku Kepala Divisi
Hukum dan Komunikasi Korporat Perum Jasa Tirta 1. Ketua JKPKA Ibu Istri
Setyowati, M.Pd berharap kegiatan ini dapat diseminasikan di sekolah bapak/ibu
guru masing-masing sehingga kedepannya sekolah yang peduli dengan ekosistem
sungai menjadi bertambah sesuai dengan program tahun 2026 yaitu menciptakan
Sekolah Sahat Sungai (3S) dengan jargon ”Jaga Sungai, Jaga Air untuk Masa Depan”
serta Koordinator Wilayah DAS Brantas Tengah Ibu Sri Susanti, M.Pd menyampaikan
jumlah peserta kegiatan meliputi jenjang SMP/Sederajat sebanyak 17 sekolah dan
SMA/Sederajat sebanyak 13 sekolah dengan masing-masing terdiri dari satu guru
(IPA/Biologi/Kimia/Fisika/Geografi) dan satu siswa perwakilan sekolah. Peserta
kegiatan berasal dari Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Nganjuk.
Kegiatan
berlangsung di dua tempat, tempat pertemuan dilakukan di Gedung Sorga, Desa
Kedak, Kec. Semen Kabupetan Kediri dan lokasi pemantauan kualitas air sungai di
sungai Kedak. Penyampaian materi pertama terkait Peran PJT I dalam Pengelolaan
Sumber Daya Air (SDA) yang disampaikan oleh Ibu Ivania, peserta kegiaan
memperhatikan dan menyimak pemaparan materi seperti wilayah sungai yang
dikelola PJT 1, pendistribusian baku mutu air, pemanfaatan air untuk irigasi
pertanian hingga pembangkit listrik dengan berbagai bendungan-bendungan yang
dikelola serta bagaimana upaya PJT 1 untuk mengastur debit air di musim kemarau
maupun mengontrol potensi banjir di musim penghujan. Materi kedua disampaikan
oleh Ibu Istri dengan topik pengenalan JKPKA dan implementasi water inquiry
dalam berbagai kegiatan sekolah seperti kegiatan intrakurikuler terintegrasi
mata pelajaran, kokurikuler maupun ekstrakurikuler yang relevan dengan
lingkungan sungai seperti KIR, Pramuka dan Pecinta Alam. Materi ketiga
disampaikan oleh Bapak Iqbal Bilgrami B, S.Pd. tentang Indeks Kualitas Air
(IKA) metode biomonitoring dan Indeks Ekologi untuk menilai kesehatan komunitas
sungai seperti aspek keankeragaman, kemerataan dan kekayaan spesies. Bapak Zein
Fata Husnul Karima, S.Pd bertugas sebagai koordinator lapangan selama proses
pemantauan kualitas air sungai mengoordinir kelompok pemantaun menuju lokasi
sungai serta dibantu oleh tim JKPKA di setiap kelompok untuk membimbing
pengumpulan data.
Data yang dikumpulkan oleh masing-masing kelompok diperoleh bahwa terdapat
beberapa kandungan kimia yang melebihi batas baku mutu air sehingga air pada
sungai Desa Kedak tidak dikategorikan sebagai kelas I dikarenakan kadar florida
yang cukup tinggi (50-100 mg/L) dan besi (FE) sebesar 0,3 mg/L sehingga lebih
cocok untuk pemanfaatan di bidang pertanian, peternakan maupun rekreasi,
sedangkan untuk pH air berkisar antara 6,2 – 8,4, tidak ada kandungan nitrit
dan nitrat yang terdeteksi begitu juga dengan kandungan logam berbahaya seperti
timbal dan merkuri. Pada aspek fisik diperoleh suhu air berkisar antara 25–27˚C
dengan kecepatan arus berkisar 0,11–012 m/s, dan kekeruhan terukur sebesar 67cm
dengan kategori dan air sungai yang
tergolong jernih. Indeks kualitas air secara biologi masuk kategori sedang dikarenakan masih ditemukan
cukup banyak makroinvertebrata yang sensisitf terhadap polutan seperti anggang-anggang
dan larva capung, sedangkan untuk indeks keanekaragaman masih termasuk
keanekaragaman sedang. Berdasarkan aspek geografi sungai termasuk sungai
permanen dengan bentuk DAS-nya “V” dengan pola aliran sentrifugal dan arah
aliran konsekuen serta pemanfaatan sungai oleh warga sebagai irigasi ladang
pertanian.
Kegiatan praktik langsung ke sungai, peserta tidak hanya memperoleh
pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman nyata dalam melakukan pemantauan
kualitas air dan memahami hubungan antara kondisi lingkungan dengan keberadaan
organisme perairan. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi
pembelajaran mendalam (deep learning) yang mendorong peserta didik untuk
belajar secara kontekstual, kolaboratif, dan berbasis pengalaman langsung.
Dengan Program Sekolah Sahabat Sungai (3S), JKPKA berharap sekolah-sekolah
peserta dapat mengembangkan kegiatan pemantauan kualitas air secara
berkelanjutan sebagai bagian dari pendidikan lingkungan hidup khususnya
ekosistem sungai yang dekat dengan sekolah. Dengan demikian, sekolah tidak
hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga menjadi pencetak agen perubahan
dalam menumbuhkan kepedulian lingkungan, pelestarian dan pemberdayaan air yang
berkelanjutan.
