0857000000001
mrjkpka@jkpka.id
Jl. Bromo No. 16, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65119 Indonesia
Guru Berbagi: Kolaborasi Guru SMA Laboratorium UM Menuju Sekolah Sahabat Sungai Bersama JKPKA

Guru Berbagi: Kolaborasi Guru SMA Laboratorium UM Menuju Sekolah Sahabat Sungai Bersama JKPKA

Malang, 7 Juli 2026 – SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan kegiatan Guru Berbagi: Kolaborasi Guru SMA Laboratorium UM Menuju Sekolah Sahabat Sungai Bersama JKPKA dengan mengusung tema “Penguatan Peran JKPKA dalam Mewujudkan Pembelajaran Mendalam”. Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru SMA Laboratorium UM sebagai upaya memperluas wawasan dan memperkuat kolaborasi dalam mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam pembelajaran yang bermakna dan kontekstual.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana yang mewakili Kepala SMA Laboratorium UM. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Guru Berbagi yang menghadirkan JKPKA sebagai salah satu media pembelajaran yang mampu menghubungkan konsep-konsep pembelajaran dengan permasalahan nyata di lingkungan sekitar peserta didik.

"Semoga kegiatan Guru Berbagi dari JKPKA ini memberikan tambahan pengetahuan bagi Bapak dan Ibu untuk mempersiapkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa," ungkap beliau.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan materi “Sekilas JKPKA dan Implementasinya dalam Pembelajaran” yang disampaikan oleh Ketua JKPKA Pusat, Istri Setyowati, M.Pd. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Kepala        SMA Laboratorium UM beserta seluruh jajaran sekolah telah memberikan ruang bagi JKPKA untuk berbagi dengan Bapak dan Ibu guru dan memberikan dukungan  selama ini terhadap berbagai kegiatan JKPKA.

Sebelum memasuki materi utama, narasumber mengajak peserta melakukan refleksi melalui pertanyaan pemantik mengenai pentingnya sungai dalam kehidupan. Pertanyaan pertama yang diajukan adalah, “Seberapa penting sungai untuk kehidupan?” Berbagai tanggapan muncul dari peserta. Sebagian menyampaikan bahwa sungai merupakan sumber air bagi kehidupan manusia, pendukung kegiatan pertanian dan perikanan, habitat berbagai makhluk hidup, serta sumber kehidupan bagi masyarakat.

Diskusi semakin menarik ketika narasumber melanjutkan dengan pertanyaan kedua, “Jika suatu hari sungai di sekitar kita hilang atau tidak lagi layak digunakan, perubahan apa yang paling pertama akan dirasakan oleh kehidupan kita?” Pertanyaan tersebut dijawab secara interaktif oleh peserta. Berbagai pendapat muncul, mulai dari kesulitan memperoleh air bersih, terganggunya kegiatan pertanian dan perikanan, menurunnya kualitas lingkungan, hingga dampaknya terhadap kesehatan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Melalui diskusi tersebut, peserta diajak menyadari bahwa sungai memiliki peran yang sangat penting dalam menopang kehidupan dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa JKPKA selama ini dikenal sebagai kegiatan pemantauan kualitas air yang melibatkan kajian fisika, kimia, biologi, dan geografi. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar melakukan pengamatan, pengukuran, analisis data, serta penyusunan laporan berdasarkan kondisi nyata lingkungan.

Namun demikian, sejalan dengan upaya mewujudkan pembelajaran mendalam, implementasi JKPKA dapat diperluas melalui kolaborasi lintas mata pelajaran. Tema lingkungan, khususnya sungai sebagai sumber kehidupan, dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran sehingga memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.

Pada mata pelajaran Ekonomi, siswa dapat mengkaji nilai ekonomi sungai dan manfaatnya bagi kehidupan masyarakat. Pada mata pelajaran Sosiologi, siswa dapat mempelajari perilaku masyarakat dalam memanfaatkan dan menjaga sungai. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dapat mengembangkan pemahaman tentang hak dan kewajiban warga negara dalam menjaga lingkungan hidup, sedangkan mata pelajaran Agama dapat memperkuat nilai-nilai moral dan tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian alam.

Selain itu, Bahasa Indonesia dapat memfasilitasi siswa dalam menyusun laporan hasil observasi, artikel ilmiah populer, maupun karya tulis bertema lingkungan. Matematika dapat memanfaatkan data hasil pemantauan kualitas air untuk kegiatan analisis statistik dan penyajian data. Mata pelajaran Seni dapat mengembangkan berbagai media kampanye lingkungan melalui poster, mural, video kreatif, maupun pameran karya siswa. Sementara itu, PJOK dapat mengintegrasikan kegiatan susur sungai, aksi bersih sungai, dan aktivitas luar ruang yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, JKPKA tidak lagi dipandang sebagai program yang hanya melibatkan guru sains, melainkan menjadi wadah kolaborasi seluruh mata pelajaran dalam menciptakan pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan berdampak nyata bagi peserta didik.

Pada sesi berikutnya, Iqbal Bilgrami, memaparkan pengalaman dan partisipasi sekolah dalam berbagai kegiatan JKPKA Competition. Peserta memperoleh gambaran mengenai proses pelaksanaan pemantauan kualitas air, pengolahan data hasil pengamatan, penyusunan karya ilmiah, hingga strategi pembimbingan peserta didik dalam mengikuti kompetisi. Berbagai pengalaman yang dibagikan menunjukkan bahwa kegiatan JKPKA tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Kegiatan Guru Berbagi berlangsung dengan penuh antusias. Diskusi dan tanya jawab yang berkembang menunjukkan tingginya minat para guru untuk mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam pembelajaran sesuai bidang studi masing-masing. Berbagai gagasan kolaboratif juga muncul sebagai langkah awal dalam mendukung pengembangan program Sekolah Sahabat Sungai di SMA Laboratorium UM.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak guru yang terlibat dalam penguatan pendidikan lingkungan hidup melalui JKPKA. Dengan kolaborasi lintas mata pelajaran, pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguasaan konsep, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab peserta didik terhadap lingkungan sebagai bagian dari kehidupan yang berkelanjutan. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah nyata SMA Laboratorium UM dalam membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan melalui pengembangan program Sekolah Sahabat Sungai.