MALANG – Program Regenerasi Anggota JKPKA Korwil Hulu tahun 2025 yang digelar di SMA Negeri 6 Kota Malang menjadi sorotan. Agenda yang seharusnya menjadi motor penggerak organisasi ini justru diawali dengan sebuah evaluasi tajam terkait data keanggotaan. Berdasarkan data tahun 2023, JKPKA mengklaim memiliki 202 sekolah anggota. Namun, sebuah fakta mengejutkan terungkap. "Dari hasil penelusuran pada setiap kegiatan JKPKA, dari 202 sekolah tersebut yang terlibat aktif di kegiatan JKPKA hanya sekitar 15 persen," ungkap Koordinator Wilayah Hulu dalam laporannya. Angka pasif yang mencapai 85% ini menimbulkan pertanyaan besar, mengingat 183 sekolah di antaranya berada di wilayah krusial seperti DAS Brantas, DAS Bengawan Solo, hingga DAS Asahan di Sumatra.
Usut punya usut, kesenjangan data dan realita di
lapangan ini memiliki penjelasan administratif. Hasil wawancara Korwil Hulu
dengan Koordinator Pusat JKPKA mengonfirmasi bahwa data 202 sekolah tersebut
merupakan hasil kesepakatan dengan Ketua MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran)
di masing-masing wilayah. Masalahnya, kesepakatan itu tidak dibarengi dengan
pembekalan kapasitas. "Sekolah-sekolah yang didata sebagai anggota JKPKA
saat itu belum semuanya mendapatkan pelatihan tentang pemantauan kualitas air
sungai." Informasi ini menjelaskan mengapa tingkat partisipasi sangat
rendah. Banyak sekolah yang terdaftar secara nama, namun belum memiliki keterampilan,
peralatan, atau komitmen untuk menjalankan fungsi pemantauan.
Temuan ini membuat agenda regenerasi di SMAN 6 Malang
menjadi semakin krusial. Program kerja utama JKPKA tahun 2025 ini kini tidak
hanya fokus pada suksesi kepengurusan. Lebih dari itu, Regenerasi 2025 akan
difokuskan sebagai momentum untuk: Validasi Ulang: Memastikan sekolah yang
terdaftar benar-benar berkomitmen. Standarisasi Pelatihan: Menjamin semua
anggota baru mendapatkan pelatihan pemantauan kualitas air yang memadai. Penguatan
Jaringan: Mengaktifkan kembali sekolah-sekolah yang "pasif" agar
berkontribusi nyata. Langkah ini diharapkan dapat mengubah status JKPKA dari
sekadar "banyak secara data" menjadi "kuat secara fungsi"
dalam menjaga kualitas air di Indonesia.
Prioritas pertama JKPKA adalah mengaktifkan kembali
sekolah-sekolah yang sudah tergabung namun "tertidur". "Kami
akan mengajak sekolah-sekolah yang sudah tergabung untuk kembali berpartisipasi
aktif dalam kegiatan JKPKA," jelas Koordinator Wilayah Hulu. Langkah ini
akan dilakukan melalui revitalisasi program pemantauan kualitas air dan program
strategis lainnya agar sekolah-sekolah lama kembali 'turun ke sungai'. Sembari
mengaktifkan anggota lama, JKPKA akan gencar memperluas jaringannya. Perekrutan
sekolah-sekolah baru akan dilakukan secara masif untuk menambah kekuatan dalam
upaya pelestarian sumber daya air di berbagai wilayah, terutama wilayah Hulu. Tujuan akhirnya adalah menguatkan posisi sekolah
sebagai pusat edukasi dan aksi nyata. JKPKA ingin memberdayakan guru dan siswa
agar tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga menjadi aktor utama dalam
menjaga sumber daya air untuk masa depan yang berkelanjutan. Program regenerasi
2025 ini diharapkan menjadi titik balik bagi JKPKA, memastikan bahwa jaringan
ini tidak hanya besar di atas kertas, tetapi juga berdampak nyata di lapangan.
Langkah "rombak strategi" JKPKA ini mendapat
sambutan hangat dari berbagai pihak, termasuk tuan rumah dan pemangku
kepentingan lainnya. Sebagai tuan rumah, Kepala SMA Negeri 6 Kota Malang, Ibu
Ernawati, menyatakan dukungannya secara penuh. Beliau menegaskan bahwa SMAN 6
Malang selalu siap mendukung kegiatan JKPKA dan merasa sangat bangga dengan
fokus kegiatan yang peduli pada konservasi air. Pihaknya juga siap bekerja sama
lebih erat dengan sekolah-sekolah lain dalam upaya pelestariannya.
Dukungan serupa datang dari Perum Jasa Tirta (PJT) I.
Ibu Yulia, selaku Humas PJT I, menyampaikan pesan yang kuat dalam sambutannya,
mengajak semua pihak untuk serius menjaga kelestarian air. "Mari kita
bersama-sama meninggalkan anak cucu kita dengan mata air, bukan air mata,"
tegas Ibu Yulia. Pesan tersebut menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara
lembaga pendidikan, komunitas, dan industri dalam memastikan ketersediaan air
bersih untuk generasi mendatang.
Regenerasi
JKPKA 2025 di SMAN 6 Malang menjadi titik balik penting, keberhasilan
implementasi program ini akan menjadi penentu apakah JKPKA mampu
bertransformasi dari sekadar kuantitas data menjadi kekuatan pelestari
lingkungan yang berkualitas. Kolaborasi
antara JKPKA, SMAN 6 Malang sebagai tuan rumah, dan PJT I sebagai pemangku
kepentingan industri menjadi kunci sukses program regenerasi ini. Langkah
"rombak strategi" yang dimulai dari Malang ini diharapkan tidak hanya
mengaktifkan kembali jaringan yang 'tertidur', tetapi juga menjadi langkah awal
untuk benar-benar mewujudkan pesan mulia: meninggalkan mata air, bukan air
mata, untuk generasi mendatang.
